Gen Z Indonesia Against The World

Gen Z Indonesia Against The World

Infocakrawala.com – Luthfi Ridzki Fakhrian
Co-Founder CentennialZ

GENERASI Z atau Gen Z adalah generasi yang mana lahir antara tahun 1995 hingga 2012. Mereka meningkat pada era digital dengan teknologi pada ujung jari mereka, menghadapi tantangan naiknya harga ekonomi, oligarki, serta krisis iklim. Gen Z adalah generasi yang tersebut paling terhubung secara global juga miliki kesadaran yang tersebut tinggi terhadap isu-isu sosial juga lingkungan.

Tulisan ini akan mengeksplorasi bagaimana Gen Z menghadapi empat tantangan besar yang mana diangkat di album “Lagipula Hidup Akan Berakhir” karya Hindia: perkembangan teknologi, pemuaian ekonomi, oligarki, serta krisis iklim, juga memberikan saran langkah konkret yang digunakan dapat dilaksanakan oleh Gen Z untuk mengatasi tantangan tersebut.

Dramatugi Gen Z di Menghadapi Perkembangan Teknologi

Teori Dramaturgi yang mana dikenalkan oleh Erving Goffman pada tahun 1959 yang tersebut termaktub di karyanya berjudul “Presentation of Self in Everyday Life”, Goffman sendiri menggambarkan bahwa keberadaan sosial terbagi melawan “wilayah depan” juga “wilayah belakang”, layaknya sebuah drama di pisau analisis yang dimaksud kita juga dapat mengamati deskripsi tentang bagaimana Gen Z yang mana meningkat dengan teknologi pada halaman depan mereka itu sebagai bagian integral dari keberadaan mereka. Namun, apabila diuraikan tambahan sangat ketergantungan yang digunakan berlebihan pada teknologi tentu dapat menghurangi kemampuan merek di berinteraksi secara segera dengan orang lain.

Untuk mengatasi hal ini, Gen Z perlu menetapkan batasan waktu penggunaangadget dengan mengempiskan waktu yang tersebut dihabiskan di tempat depan layar juga lebih banyak banyak berinteraksi secara dengan segera dengan orang lain. Kemudian, mengembangkan keterampilan sosial dengan mengikuti kegiatan sosial, bergabung dengan komunitas, atau mengikuti pelatihan keterampilan interpersonal. Hal ini juga dapat mengempiskan kecanduan internet dan juga media sosial. Namun, apabila telah mengkhawatirkan, dapat mengikuti terapi atau konseling dan juga mencari bantuan profesional jikalau mengalami kecanduan teknologi, di hal ini internet juga media sosial.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, keberlimpahan informasi yang mana mudah diakses dapat menjadi bumerang. Gen Z perlu belajar menyaring informasi yang tersebut relevan serta benar dari yang digunakan tidak ada valid atau tak penting. Beberapa langkah yang tersebut dapat diambil adalah dengan cara memanfaatkan sumber informasi terpercaya dengan menggunakan sumber berita yang tersebut kredibel dan juga melakukan verifikasi fakta sebelum menyebarkan informasi. Tidak cuma itu, Gen Z perlu mengembangkan keterampilan literasi media. Salah satu tindakan dengan mengikuti pelatihan literasi media untuk memahami bagaimana menyaring juga mengevaluasi informasi.

Jika kita berbicara mengenai perkembangan teknologi kemudian bagaimana cara menghadapinya, bukan lepas dari hal-hal yang berkaitan dengan kondisi tubuh mental. Pasalnya, pemakaian teknologi yang dimaksud berlebihan dapat menyebabkan permasalahan kondisi tubuh mental seperti kecemasan dan juga stres. Dalam hal ini, Gen Z dapat mengatasinya dengan mengambil istirahat dari media sosial. Mengatur waktu tanpa gadget untuk fokus pada diri sendiri juga beraktivitas fisik. Lalu, hal yang dirasa sangat penting, Gen Z dapat mengakses dukungan kebugaran mental, mencari bantuan dari profesional kondisi tubuh mental jikalau diperlukan, dan juga berbicara tentang perasaan merek dengan orang yang mana dipercaya.

Bicara mengenai perkembangan teknologi, kemudian hambatan kebugaran mental, seperti yang dimaksud sudah ada dibahas pada paragraf sebelumnya, salah satu topik yang–dan–terus berkaitan adalah Cyberbullying. Cyberbullying merupakan tantangan besar yang dapat berdampak negatif pada kondisi tubuh mental Gen Z.

Langkah-langkah yang tersebut dapat diambil untuk mengatasi hal seperti ini adalah melaporkan juga memblokir pelaku cyberbullying dengan menggunakan ciri pelaporan pada wadah media sosial untuk melaporkan perilaku tidaklah pantas. Kemudian, Gen Z serta seluruh publik perlu meningkatkan kesadaran tentang cyberbullying dengan turut berpartisipasi pada kampanye anti–bullying lalu menyokong teman-teman yang dimaksud menjadi korban.

Selanjutnya, paparan konten digital yang mana konstan dapat mempengaruhi kemampuan Gen Z untuk mempertahankan fokus. Mereka perlu melakukan latihan fokus lalu meditasi menggunakan teknik mindfulness dan juga meditasi untuk meningkatkan konsentrasi. Mengatur jadwal belajar yang tersebut terstruktur dengan menghasilkan jadwal yang tersebut memungkinkan waktu belajar yang digunakan terfokus tanpa gangguan.

Dalam perkembangan teknologi seperti sekarang ini, Gen Z dihadapkan pada persaingan global yang ketat pada berbagai bidang pekerjaan. Untuk berhasil bersaing, Gen Z harus meningkatkan keterampilan lalu pendidikan, seperti mengambil kursus online, mendapatkan sertifikasi, kemudian terus belajar untuk meningkatkan keterampilan lalu value diri sendiri. Itu semata tak cukup, Gen Z harus mendirikan jaringan profesional dengan cara menggunakan platform digital profesional seperti LinkedIn untuk mendirikan jaringan dan juga mencari potensi karier agar jaringan profesional dan juga warga lainnya dapat mengenal kemudian mengetahui keterampilan juga value yang digunakan kita miliki.

Setelah Gen Z meningkatkan keterampilan kemudian value diri, juga memulai pembangunan jaringan profesional, lalu ada yang dimaksud namanya manajemen identitas digital yang tersebut tidaklah kalah penting. Gen Z perlu mendirikan citra diri yang mana positif secara online (daring) dengan berhati-hati di memberikan informasi pribadi serta menjaga etika di berinteraksi di tempat dunia maya.

Di sedang situasi lalu kondisi yang dimaksud sudah ada serba cepat, segala sesuatu dapat diakses hanya saja dengan genggaman, Gen Z juga perlu mengamankan data pribadi dengan menggunakan kata sandi yang mana kuat juga mengaktifkan verifikasi dua langkah untuk melindungi akun media sosial agar para Gen Z serta rakyat lainnya terhindar dari peretasan oleh orang-orang yang digunakan tiada bertanggungjawab yang tersebut dapat mengakibatkan citra diri yang tersebut positif menjadi tiada baik hanya sekali dengan seketika.

Berperan Dalam Kemajuan Ekonomi

Bicara mengenai dunia usaha ketika ini maka akan muncul beberapa hal negatif misalnya naiknya harga ekonomi, apabila kita lihat hari ini Gen Z juga menghadapi tantangan pengeluaran tinggi yang tersebut menyulitkan untuk menabung atau berinvestasi. Untuk mengatasi ini, Gen Z perlu mengatur anggaran keuangan dengan cara menciptakan anggaran bulanan yang dimaksud rinci lalu mematuhi rencana pengeluaran. Kemudian, Gen Z dapat mencari sumber penghasilan tambahan dengan mengambil pekerjaan paruh waktu atau memulai bisnis kecil untuk menambah penghasilan. Hal ini juga berkaitan dengan meningkatkan keterampilan kemudian value diri juga mendirikan jaringan profesional yang dimaksud telah dibahas sebelumnya. Dengan begini akan memudahkan para Gen Z untuk mendapatkan sumber penghasilan tambahan atau memulai usaha kecil untuk menambah penghasilan.